Review Film Tarot: Kartu yang Membunuh. Film horor Tarot (2024) yang disutradarai oleh Spenser Cohen dan Anna Halberg tetap menjadi salah satu slasher supernatural paling dibicarakan di kalangan penggemar genre hingga awal 2026. Berlatar di sebuah rumah mewah di pinggiran kota, film berdurasi 92 menit ini mengisahkan sekelompok mahasiswa yang secara tidak sengaja membuka kotak tarot kuno dan membangkitkan entitas jahat yang memburu mereka satu per satu sesuai kartu yang mereka tarik. Dibintangi Harriet Slater sebagai Haley, Adain Bradley sebagai Grant, dan Avantika sebagai Elise, Tarot dirilis oleh Screen Gems pada Mei 2024 dan langsung menjadi sleeper hit di box office dengan pendapatan lebih dari USD 49 juta secara global dari anggaran sekitar USD 8,25 juta. Meski mendapat ulasan campur dari kritikus, film ini sukses besar di kalangan penonton muda karena visual yang menyeramkan, jumpscare yang efektif, dan konsep “kematian sesuai kartu tarot” yang cukup orisinal. INFO CASINO
Alur Cerita dan Konsep Kartu Pembunuh: Review Film Tarot: Kartu yang Membunuh
Cerita dimulai ketika sekelompok teman kuliah merayakan ulang tahun Elise di rumah kosong milik ayahnya. Mereka menemukan kotak tarot antik di ruang bawah tanah dan memutuskan untuk membaca kartu demi kesenangan. Tak lama kemudian, setiap orang yang menarik kartu mulai dikejar dan dibunuh oleh manifestasi mengerikan dari kartu tersebut: Death (Kematian), The Fool (Si Bodoh), The Hermit (Pertapa), The Hanged Man (Orang Digantung), hingga The Devil (Setan). Setiap pembunuhan dirancang sesuai simbolisme kartu—misalnya, The Fool dibunuh dengan cara jatuh dari ketinggian, The Hermit dikurung dalam kegelapan, dan The Devil dibakar hidup-hidup.
Alur cerita berjalan cepat dan penuh jumpscare klasik, dengan tempo yang tidak memberi penonton banyak waktu bernapas. Tidak ada penjelasan panjang tentang asal-usul entitas; kotak tarot itu hanya “ada” dan langsung aktif ketika dibuka. Hal ini membuat film terasa seperti slasher tradisional dengan sentuhan supernatural yang sederhana tapi efektif. Klimaks terjadi ketika Haley menyadari satu-satunya cara bertahan adalah menghancurkan kotak dan membalikkan kutukan, meski dengan harga yang mahal.
Visual, Atmosfer, dan Kekuatan Jumpscare: Review Film Tarot: Kartu yang Membunuh
Sinematografi oleh Maxime Alexandre menggunakan pencahayaan gelap dan warna dingin untuk menciptakan rasa claustrophobia di rumah besar yang seharusnya mewah. Desain monster dan efek praktis untuk setiap kartu terasa cukup kreatif—terutama Death yang muncul sebagai sosok berjubah dengan rantai, dan The Hanged Man yang menggantung korban secara literal. Jumpscare-nya cukup banyak dan sering berhasil membuat penonton terlonjak, meski beberapa di antaranya terasa predictable.
Atmosfer film sangat bergantung pada suara: derit lantai, hembusan angin, dan suara kartu yang dibalik menjadi elemen horor yang kuat. Musik oleh Joseph Bishara menambah ketegangan tanpa terlalu mendominasi. Salah satu kekuatan film adalah bagaimana ia menggunakan simbolisme tarot secara visual—setiap kematian terasa seperti “ramalan” yang menjadi kenyataan.
Tema dan Kelemahan Naratif
Tarot tidak terlalu dalam secara tematik; ia lebih fokus pada hiburan dan jumpscare daripada eksplorasi psikologis. Tema utamanya adalah konsekuensi dari mengganggu hal-hal yang tidak seharusnya disentuh—kotak tarot sebagai metafora “jangan main-main dengan kekuatan yang tidak dipahami”. Beberapa penonton mengkritik bahwa karakter-karakter terasa tipis dan mudah dilupakan, serta plot twist akhir terasa cukup klise. Namun bagi penggemar slasher ringan seperti Final Destination atau Smile, kekurangan itu justru menjadi bagian dari kesenangan—film ini tidak berpura-pura jadi karya seni tinggi, melainkan hiburan berdarah yang efektif.
Kesimpulan
Tarot adalah film slasher supernatural yang menyenangkan, menyeramkan, dan sangat efektif dalam memberikan jumpscare serta visual mengerikan dari kartu-kartu pembunuh. Meski tidak terlalu orisinal dalam plot dan karakter, arahan Spenser Cohen dan Anna Halberg berhasil membuat setiap kematian terasa unik dan sesuai simbolisme tarot. Penampilan para aktor muda cukup solid untuk genre ini, terutama Harriet Slater dan Avantika yang memberikan energi tinggi di tengah kekacauan. Bagi penggemar horor ringan yang suka Final Destination, Talk to Me, atau Smile, Tarot adalah tontonan yang pas—cepat, berdarah, dan tidak terlalu membebani pikiran. Hingga 2026, film ini tetap menjadi salah satu slasher modern yang paling mudah dinikmati dan dibicarakan karena konsep “kematian sesuai kartu” yang cukup segar. Tarot bukan film horor revolusioner, tapi ia berhasil melakukan apa yang dijanjikan: membuat penonton takut, terlonjak, dan sedikit ketakutan saat melihat dek tarot di rumah sendiri. Sebuah hiburan berdarah yang sukses dan layak ditonton bagi siapa saja yang mencari ketegangan cepat di malam hari.
