review-film-the-batman-ii-gotham-makin-mencekam

Review Film The Batman II: Gotham Makin Mencekam. The Batman II yang tayang sejak Desember 2025 langsung jadi sensasi di kalangan penggemar DC. Disutradarai Matt Reeves lagi, film ini lanjutkan kisah Bruce Wayne/Batman (Robert Pattinson) di tahun kedua sebagai vigilante. Dengan durasi 2 jam 45 menit dan budget US$250 juta, sekuel ini bawa tone noir yang lebih gelap dan mencekam dari pendahulunya. Box office global sudah tembus US$850 juta hingga Januari 2026, dengan rating Rotten Tomatoes 88% dari kritikus dan 92% dari penonton. Cerita fokus pada Bruce yang semakin dalam terjerumus kegelapan Gotham, lawan villain baru seperti Clayface dan Hush, sambil hadapi ancaman internal dari korupsi polisi dan mafia. Ini bukan sekuel biasa—film ini bikin Gotham terasa lebih hidup, mencekam, dan relatable di era sekarang. BERITA BASKET

Kekuatan Cerita dan Karakter yang Lebih Dalam di Film The Batman II: Review Film The Batman II: Gotham Makin Mencekam

Matt Reeves sukses bangun dunia Gotham yang lebih kaya. Bruce Wayne bukan lagi pemula—ia lebih paranoid, kehilangan kepercayaan pada sistem, dan mulai ragu identitasnya sebagai Batman. Pattinson tampil luar biasa: mata lelahnya dan suara serak bikin Bruce terasa manusiawi, bukan superhero sempurna. Cerita eksplorasi trauma masa lalu Bruce dengan flashback halus, dan konflik internalnya jadi pusat emosional. Villain seperti Clayface (diperankan Barry Keoghan dengan makeup mengerikan) bawa elemen horor psikologis—ia bisa ubah bentuk dan manipulasi, bikin adegan chase mencekam. Hush (Jeffrey Wright sebagai komplotan korup) tambah lapisan konspirasi. Zoe Kravitz kembali sebagai Catwoman dengan chemistry lebih kuat, sementara Jeffrey Wright sebagai Gordon dan Andy Serkis sebagai Alfred beri dukungan solid. Pacing film lambat tapi deliberate—babak pertama bangun ketegangan, tengah penuh misteri, dan akhir action brutal tanpa CGI berlebih. Tema korupsi, kesehatan mental, dan vigilante justice terasa relevan, bikin film ini lebih dari sekadar superhero flick.

Visual dan Musik yang Mencekam dari Film The Batman II

Visual Gotham di The Batman II lebih immersif. Sinematografi Greig Fraser (Dune) tangkap kota yang basah, gelap, dan penuh neon rusak—hujan deras dan kabut bikin setiap frame terasa dingin dan menekan. Adegan action seperti kejar-kejaran motor di jalan banjir dan pertarungan tangan kosong di gudang gelap terasa realistis dan brutal, tanpa slow-motion berlebih. CGI minimal, fokus pada stunt praktis yang bikin Pattinson kelihatan capek dan terluka beneran. Musik Michael Giacchino kembali jadi highlight. Skornya gelap dan atmosferik, dengan motif Batman yang lebih dalam dan mencekam. Lagu asli seperti “The Shadows Rise” yang dinyanyikan karakter di film tambah nuansa noir. Sound design—suara hujan, angin, dan detak jantung—bikin penonton merinding, terutama di adegan horor psikologis dengan Clayface.

Kelemahan dan Kritik: Review Film The Batman II: Gotham Makin Mencekam

Meski mencekam, film ini punya kelemahan di durasi dan subplot. Beberapa adegan investigasi terasa panjang, bikin pacing tengah agak lambat untuk penonton yang harap action nonstop. Subplot Catwoman dan mafia terasa kurang terintegrasi, meski Kravitz tampil kuat. Beberapa fans bilang villain seperti Hush kurang berkembang—ia lebih jadi plot device daripada karakter kompleks. Rating PG-13 bikin adegan kekerasan tak terlalu grafis, yang bagi sebagian terasa kurang berani. Tapi secara keseluruhan, kekurangan ini tak ganggu pengalaman—film ini tetap kohesif dan bikin penasaran sekuel ketiga.

Respon Penonton dan Dampak ke DCU

Penonton suka banget dengan tone mencekam dan kedalaman karakter. Di bioskop Indonesia, film ini laris dengan antrean panjang, dan rating tinggi dari keluarga serta fans dewasa yang suka cerita detektif. Box office US$850 juta (dengan proyeksi akhir US$1 miliar) tunjukkan sukses komersial, meski tak sebesar The Batman 2022. Di media sosial, adegan Batman vs Clayface dan monolog Bruce jadi viral. Dampak ke DCU besar: film ini validasi visi Reeves untuk Batman solo trilogy yang lebih grounded, beda dari DCU utama Gunn. Ini juga bukti DC bisa sukses dengan tone berbeda—gelap dan mencekam untuk Batman, cerah untuk Superman Gunn. Sekuel ketiga sudah diumumkan 2028, dengan rumor villain Riddler kembali dan plot lebih besar.

Kesimpulan

The Batman II: Gotham Makin Mencekam adalah sekuel yang sukses bikin dunia Batman terasa lebih hidup dan menyeramkan. Matt Reeves dan Robert Pattinson berhasil tingkatkan level dari film pertama dengan cerita emosional, visual mencekam, dan musik atmosferik. Meski pacing agak lambat dan subplot kurang dalam, film ini tetap jadi tontonan wajib buat fans superhero yang suka nuansa noir. Box office kuat dan respon positif tunjukkan DC mulai cerah di jalur yang benar. Kalau suka The Batman 2022, ini upgrade yang layak—siapkan popcorn dan nonton di bioskop untuk rasain kegelapan Gotham sepenuhnya. Reboot DC makin menjanjikan!

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *