Review Film September 5: Thriller Olimpiade Munich. Film September 5 karya Tim Fehlbaum yang tayang sejak akhir 2024 masih menjadi salah satu thriller paling intens dan dibicarakan hingga awal 2026. Film ini menceritakan peristiwa nyata pembantaian atlet Israel oleh kelompok Black September di Olimpiade Munich 1972, dilihat sepenuhnya dari perspektif tim ABC News yang memimpin liputan dunia saat itu. Dibintangi Peter Sarsgaard sebagai produser Howard Rosenberg, John Magaro sebagai reporter David, dan Leonie Benesch sebagai editor Marianne, film berdurasi 95 menit ini berhasil meraih rating Rotten Tomatoes 92% dari kritikus dan 89% dari penonton. Dengan pendekatan real-time dan minim dialog, September 5 terasa seperti pengalaman hidup di ruang kontrol berita selama 21 jam paling mencekam dalam sejarah Olimpiade. Apakah thriller jurnalistik ini benar-benar berhasil membangun ketegangan tanpa satu pun adegan kekerasan langsung? BERITA TERKINI
Atmosfer Real-Time yang Menyesakkan di Film September 5: Review Film September 5: Thriller Olimpiade Munich
Kehebatan utama September 5 ada pada pilihan format real-time yang sangat ketat. Hampir seluruh film berlangsung di dalam ruang kontrol ABC News di Munich, dengan monitor-monitor hitam-putih, telepon berdering tanpa henti, dan suara reporter lapangan yang panik. Tidak ada adegan flashback atau rekonstruksi kekerasan—semua informasi datang melalui suara radio, telepon, dan gambar buram dari kamera lapangan. Pendekatan ini membuat penonton merasa benar-benar terjebak bersama tim ABC yang harus memutuskan apa yang boleh ditayangkan ke jutaan pemirsa dunia. Ketegangan dibangun melalui dialog cepat, keputusan etis mendadak, dan keheningan panjang ketika semua orang menunggu berita terbaru dari desa atlet. Musik dari Lorenz Dangel sangat minimalis—hanya suara ambient dan detak jam yang semakin menekan. Visualnya sederhana tapi sangat efektif: monitor CRT yang flicker, asap rokok, kertas-kertas bertebaran, dan wajah-wajah lelah para kru berita yang menyadari mereka sedang meliput tragedi terbesar dalam sejarah Olimpiade.
Performa Peter Sarsgaard dan Ensemble Cast: Review Film September 5: Thriller Olimpiade Munich
Peter Sarsgaard sebagai produser Howard Rosenberg memberikan penampilan paling terkendali dan intens dalam karirnya. Ia berhasil menyampaikan beban berat seorang jurnalis yang harus menyeimbangkan kebenaran, etika, dan tekanan waktu tayang langsung. Ekspresi wajahnya, cara bicara yang pelan tapi tegas, dan momen ketika ia hampir kehilangan kendali menjadi salah satu highlight film. John Magaro sebagai reporter David dan Leonie Benesch sebagai editor Marianne juga tampil sangat kuat—mereka mewakili dua generasi jurnalis yang berbeda: David yang idealis dan Marianne yang pragmatis. Ensemble cast terasa seperti tim berita sungguhan—semua berbicara bersamaan, saling memotong, dan menunjukkan dinamika kerja di bawah tekanan ekstrem. Tidak ada bintang yang mencolok; semua berperan untuk membangun rasa panik kolektif yang sangat nyata.
Kelemahan Pacing dan Kedalaman Emosional
Meski atmosfer luar biasa, film ini punya kelemahan di pacing yang sangat lambat dan minim dialog emosional. Karena hampir seluruh cerita berlangsung di satu ruangan dengan fokus pada proses kerja jurnalistik, beberapa penonton merasa kurang ada “momen manusiawi” yang mendalam. Tidak ada adegan flashback korban atau eksplorasi latar belakang teroris, sehingga penonton yang tidak familiar dengan peristiwa Munich 1972 bisa merasa kurang terhubung secara emosional. Dibandingkan film thriller real-time seperti United 93 atau 22 July, September 5 terasa lebih dingin dan fokus pada proses kerja daripada penderitaan korban. Beberapa kritik bilang film ini terlalu “klinis” dan kurang punya “hati” meski sangat akurat secara historis.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia yang menyukai thriller berbasis fakta menyambut sangat positif—film ini laris di bioskop indie dan platform streaming, dengan banyak diskusi soal etika jurnalisme dan tragedi Munich 1972. Box office US$120 juta (dengan proyeksi akhir US$180–220 juta) tunjukkan sukses komersial untuk film berat seperti ini. Di media sosial, klip ruang kontrol ABC dan monolog Peter Sarsgaard jadi viral. Film ini juga membuka diskusi soal tanggung jawab media dalam meliput tragedi, etika siaran langsung, dan bagaimana berita bisa memengaruhi opini publik. Banyak yang bilang ini salah satu thriller jurnalistik terbaik dekade ini dan layak dapat pujian atas keberaniannya menceritakan sejarah tanpa sensasionalisme.
Kesimpulan
September 5 adalah thriller real-time yang berhasil jadi salah satu film paling mencekam dan cerdas tahun 2025. Peter Sarsgaard dan ensemble cast tampil luar biasa, atmosfer ruang kontrol berita sangat menyesakkan, dan pendekatan tanpa adegan kekerasan langsung membuat film ini unik dan sangat efektif. Meski pacing lambat dan kurang emosional bagi sebagian penonton, film ini tetap jadi tontonan wajib bagi yang suka drama berbasis fakta dan thriller psikologis. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka United 93, All the President’s Men, atau The Post. Kalau suka cerita tentang jurnalisme di bawah tekanan, ini salah satu yang terbaik. Nonton kalau belum—siapkan konsentrasi penuh dan keheningan, karena film ini tidak ingin ditonton sambil main ponsel. Thriller ini membuktikan bahwa horor terbesar kadang bukan monster, tapi ketidakpastian dan tanggung jawab manusia. Layak dapat tempat spesial di daftar tontonan 2025–2026.
