Review Film Burning: Misteri Lambat yang Membakar Jiwa

Review Film Burning: Misteri Lambat yang Membakar Jiwa. Burning karya Lee Chang-dong yang tayang pada 2018 tetap menjadi salah satu film paling mengguncang dan sulit dilupakan dalam sinema kontemporer. Diadaptasi dari cerpen pendek Haruki Murakami berjudul “Barn Burning” dengan sentuhan pengaruh The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald, film ini mengikuti Jong-su (Yoo Ah-in), pemuda pemalu dari desa yang bercita-cita menjadi penulis, yang bertemu kembali dengan Hae-mi (Jeon Jong-seo), teman masa kecilnya yang kini lebih terbuka dan penuh misteri. Ketika Hae-mi memperkenalkan Ben (Steven Yeun), pria kaya raya yang tenang dan ambigu, hubungan segitiga ini perlahan berubah menjadi permainan psikologis yang penuh ketegangan. Dengan durasi sekitar 148 menit, Lee Chang-dong menyajikan thriller lambat yang lebih banyak bergantung pada keheningan, tatapan mata, dan detail kecil daripada plot cepat. Hampir delapan tahun kemudian, di tengah maraknya diskusi tentang kelas sosial, alienasi generasi muda, dan misteri yang tak terpecahkan, Burning masih terasa seperti bara yang terus menyala pelan di dada penonton. BERITA TERKINI

Atmosfer Lambat yang Menyesakkan dan Visual yang Memukau: Review Film Burning: Misteri Lambat yang Membakar Jiwa

Lee Chang-dong membangun Burning dengan ritme yang sengaja lambat, hampir seperti meditasi yang gelisah. Kamera sering diam lama pada wajah karakter, pada pemandangan pedesaan yang sepi, atau pada api unggun kecil di malam hari—semuanya dirancang untuk membiarkan ketegangan meresap perlahan. Sinematografer Hong Kyung-pyo menangkap cahaya senja Korea Selatan yang lembut, kontras dengan kegelapan malam di gudang terpencil, menciptakan rasa tidak nyaman yang konstan. Adegan ikonik di mana Hae-mi menari telanjang di bawah matahari terbenam di tengah savana Afrika menjadi momen puitis yang kontras dengan kekosongan emosional di sekitarnya. Suara ambient—angin, deru mobil, atau keheningan panjang—menggantikan musik skor berat, membuat setiap detik terasa lebih berat. Pendekatan ini bukan untuk semua orang, tapi bagi yang sabar, ia menciptakan pengalaman yang seperti mimpi buruk yang indah: lambat, tapi sekali menyala, sulit dipadamkan.

Tema Kelas Sosial, Alienasi, dan Misteri yang Tak Terjawab: Review Film Burning: Misteri Lambat yang Membakar Jiwa

Inti Burning adalah ketidakpastian dan kekosongan yang menghantui generasi muda Korea Selatan—dan bisa dibilang, generasi muda di mana saja. Jong-su mewakili kelas pekerja yang berjuang, penuh mimpi tapi tak punya akses; Ben adalah simbol orang kaya yang tak tersentuh, selalu tersenyum tapi tak pernah benar-benar terbuka; Hae-mi berada di tengah, mencari makna melalui petualangan dan fantasi tapi akhirnya hilang tanpa jejak. Lee Chang-dong tidak pernah memberikan jawaban pasti: apakah Ben benar-benar pembunuh berantai? Apakah gudang-gudang yang dibakar itu metafor atau bukti nyata? Film ini lebih tertarik pada rasa iri, kecemburuan kelas, dan bagaimana ketidakpastian bisa “membakar” jiwa seseorang dari dalam. Dialog minim, tapi setiap kata terasa berbobot—terutama monolog Ben tentang membakar gudang kosong sebagai bentuk seni. Di akhir, ketika Jong-su berdiri di depan apartemen Ben dengan pisau di tangan, penonton ditinggalkan dengan pertanyaan yang sama yang menghantui karakter: apa yang nyata, dan apa yang hanya proyeksi kemarahan kita sendiri?

Warisan dan Relevansi yang Terus Bertambah Burning

tayang perdana di Cannes 2018 dan menjadi film Korea pertama yang masuk nominasi Best Foreign Language Film di Oscar (meski tak menang). Kritikus memujinya sebagai salah satu thriller psikologis terbaik dekade itu, sementara penonton terbagi antara yang terpukau dan yang frustrasi karena akhir yang terbuka. Steven Yeun, dalam peran internasional pertamanya yang besar, membawa Ben ke level ikonik—pria yang terlalu tenang hingga menyeramkan. Di 2026, ketika isu kesenjangan ekonomi, kesehatan mental generasi muda, dan ketidakpastian masa depan semakin mendominasi diskusi, Burning sering disebut kembali di media sosial dan forum film. Restorasi dan penayangan ulang di bioskop arthouse serta platform streaming terus memperkenalkan film ini pada audiens baru, yang menemukan bahwa ketegangan lambatnya justru membuatnya lebih kuat di era konten cepat.

Kesimpulan

Burning adalah misteri lambat yang tidak pernah benar-benar terpecahkan—dan itulah kekuatannya. Lee Chang-dong berhasil menciptakan film yang indah sekaligus menyiksa, di mana api bukan hanya elemen visual, melainkan metafor untuk kemarahan, iri hati, dan kehampaan yang membara di dalam diri. Hampir delapan tahun berlalu, film ini tetap relevan karena bicara tentang hal-hal yang tak terucapkan: bagaimana kelas sosial memisahkan orang, bagaimana kita mencari makna di dunia yang terasa kosong, dan bagaimana ketidakpastian bisa menghancurkan lebih dalam daripada kebenaran apa pun. Jika Anda belum menonton, atau sudah lama tak menonton ulang, siapkan waktu dua setengah jam di ruangan gelap, tanpa gangguan. Ini bukan thriller biasa yang memberi katarsis cepat; ini adalah bara yang terus menyala pelan, membakar jiwa Anda lama setelah layar gelap. Sebuah karya yang tenang, tapi kekuatannya luar biasa.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *