Review Film Gundala: Superhero Indonesia Bangkit

Review Film Gundala: Superhero Indonesia Bangkit. Gundala (2019) karya Joko Anwar tetap jadi tonggak penting kebangkitan superhero Indonesia di layar lebar. Hampir enam tahun setelah rilis, film ini masih sering disebut sebagai bukti bahwa cerita pahlawan lokal bisa punya kedalaman, aksi solid, dan nuansa sosial yang tajam. Diadaptasi dari komik klasik Harya “Hasmi” Suraminata, Gundala membawa Sancaka (Abimana Aryasatya) dari anak yatim piatu yang trauma jadi pahlawan berbaju merah yang melindungi rakyat kecil. Dengan visual gelap, musik epik, dan pesan tentang ketidakadilan sosial, film ini berhasil jadi blockbuster domestik sekaligus pintu masuk genre superhero Tanah Air ke level internasional. Bukan cuma soal pukulan dan kilat—ini tentang bagaimana seorang manusia biasa bangkit melawan sistem yang rusak. BERITA TERKINI

Sinopsis dan Latar Sosial yang Kuat: Review Film Gundala: Superhero Indonesia Bangkit

Cerita berlatar Indonesia era 1960-an hingga 1980-an, di tengah gejolak politik dan kemiskinan. Sancaka kecil (Zsa Zsa Utari) kehilangan orang tuanya karena korupsi dan kekerasan aparat. Ia tumbuh jadi preman jalanan yang dingin dan egois, tapi takdir membawanya bertemu kembali dengan masa lalunya. Ketika tiran lokal bernama Pengkor (Bront Palarae) menguasai kota dengan kekuatan gaib dan pasukan preman, Sancaka harus memilih: tetap jadi penutup mata atau bangkit sebagai Gundala—pahlawan yang mengendalikan listrik dan melindungi yang lemah.
Joko Anwar tidak hanya membuat film aksi; ia menyisipkan kritik sosial tajam tentang korupsi, ketimpangan kelas, dan trauma kolektif pasca-Orde Baru. Adegan-adegan seperti kerusuhan massa, penggusuran paksa, dan eksploitasi buruh terasa sangat relevan, membuat Gundala lebih dari sekadar superhero movie—ini cermin masyarakat Indonesia yang masih berjuang dengan isu serupa hingga sekarang.

Abimana Aryasatya: Sancaka yang Dingin tapi Berapi: Review Film Gundala: Superhero Indonesia Bangkit

Abimana Aryasatya memberikan performa terbaiknya sebagai Sancaka/Gundala. Dari pemuda pendiam yang penuh amarah tersembunyi sampai pahlawan yang mulai percaya pada kebaikan, transisinya terasa organik. Matanya yang tajam dan gerakan minim membuat karakternya terasa autentik—bukan superhero flashy seperti di Hollywood, tapi pejuang jalanan yang rapuh. Adegan transformasi pertama Gundala di atap gedung saat hujan deras jadi salah satu momen paling ikonik: kilat menyambar, kostum merah menyala, dan ekspresi Abimana yang penuh tekad.
Supporting cast juga kuat: Tara Basro sebagai Wulan/Sri Asih membawa kekuatan dan chemistry yang pas, Bront Palarae sebagai Pengkor jadi villain dingin dan karismatik, dan Ario Bayu sebagai Ghani Zulham (Godam) menambah dinamika tim pahlawan. Ensemble ini membuat Gundala terasa seperti bagian dari universe yang lebih besar—sesuatu yang kemudian terealisasi lewat Jagat Sinema Bumilangit.

Aksi, Visual, dan Produksi yang Naik Kelas

Joko Anwar membuktikan bahwa superhero Indonesia bisa punya kualitas produksi kelas dunia dengan budget terbatas. Sinematografi Ical Tanjung menggunakan warna gelap, hujan deras, dan neon kota untuk menciptakan atmosfer gritty yang kontras dengan kostum merah Gundala. Adegan aksi dirancang realistis: pertarungan tangan kosong, penggunaan listrik yang tak berlebihan, dan efek praktis yang bikin pukulan terasa sakit. Skor Steves Sesay penuh dentuman gamelan modern dan orkestra epik, membuat setiap klimaks terasa megah.
Efek visualnya cukup baik untuk zamannya—kilat dan ledakan listrik terlihat meyakinkan tanpa bergantung CGI berlebih. Durasi 119 menit terasa pas: cukup waktu untuk membangun backstory, aksi, dan pesan sosial tanpa terasa bertele-tele. Film ini juga sukses besar di box office Indonesia, menarik jutaan penonton dan membuka jalan bagi Jagat Sinema Bumilangit (Virgo, Sri Asih, Gundala sequel, dll.).

Kesimpulan

Gundala adalah bukti bahwa superhero Indonesia bisa bangkit dengan cara sendiri: gelap, sosial, dan sangat lokal. Joko Anwar berhasil menggabungkan aksi epik, drama keluarga, dan kritik masyarakat dalam satu paket yang solid. Abimana Aryasatya membawa Sancaka jadi pahlawan yang relatable—bukan dewa sempurna, tapi manusia yang memilih berjuang. Visual, musik, dan pesan tentang ketidakadilan membuat film ini timeless.
Di tengah tren superhero global yang penuh CGI bombastis, Gundala mengingatkan bahwa kekuatan sejati datang dari akar budaya dan realitas sosial. Ini bukan akhir, tapi awal kebangkitan superhero Tanah Air. Jika belum nonton ulang, saatnya—karena Gundala masih relevan, masih merinding, dan masih bikin bangga jadi orang Indonesia.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *