Review Film The Siege at Thorn High: Thriller Sekolah. Di antara film thriller remaja Korea yang kembali ramai dibicarakan pada awal 2026, The Siege at Thorn High (judul asli Korea: Godeung Hakgyo Gongseong Jeon) tetap menjadi salah satu karya paling tegang dan kontroversial. Dirilis pada tahun 2008 sebagai adaptasi longgar dari novel dan kemudian mendapatkan perhatian baru lewat penayangan ulang di platform streaming serta diskusi online tentang kekerasan sekolah, film ini menggambarkan pemberontakan siswa di sebuah sekolah elit yang berubah menjadi kekacauan berdarah. Dengan ritme cepat, adegan kekerasan yang realistis, dan kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang menindas, The Siege at Thorn High bukan sekadar thriller aksi; ia adalah potret thriller sekolah yang menggambarkan puncak keputusasaan remaja di bawah tekanan akademik, hierarki sosial, dan kekuasaan guru yang korup. BERITA VOLI
Latar Belakang Film: Review Film The Siege at Thorn High: Thriller Sekolah
The Siege at Thorn High disutradarai oleh Kim Tae-kyun dan dibintangi Yoo Seon-ho sebagai Kang Soo-hyuk, siswa pindahan yang cerdas tapi penuh amarah setelah mengalami bullying di sekolah sebelumnya. Sekolah Thorn High digambarkan sebagai institusi elit yang sangat kompetitif, di mana nilai ujian menentukan segalanya dan siswa lemah dianggap sampah. Pemeran pendukung seperti Lee Hyun-woo sebagai pemimpin geng siswa berpengaruh dan Kim So-eun sebagai teman seperjuangan Soo-hyuk menambah dinamika konflik. Film ini terinspirasi dari kasus-kasus kekerasan sekolah nyata di Korea Selatan pada era 2000-an, di mana tekanan akademik dan bullying sering berujung tragedi. Produksi visualnya kasar dan realistis: adegan perkelahian massal di koridor sekolah, ruang kelas yang berantakan, dan penggunaan kamera handheld yang membuat penonton merasa berada di tengah kekacauan. Soundtrack minimalis dengan suara napas berat dan benturan memperkuat rasa sesak sepanjang film. Meski dirilis lebih dari 15 tahun lalu, film ini kembali viral di kalangan Gen Z pada 2025–2026 berkat rewatch di platform streaming dan diskusi tentang relevansinya dengan isu bullying modern.
Analisis Tema dan Makna: Review Film The Siege at Thorn High: Thriller Sekolah
Makna utama The Siege at Thorn High adalah thriller sekolah yang menggambarkan pemberontakan sebagai bentuk keputusasaan remaja terhadap sistem yang menindas. Soo-hyuk, yang awalnya hanya ingin belajar tenang, terpaksa melawan setelah melihat teman-temannya dihina, dipukuli, dan bahkan bunuh diri akibat tekanan nilai serta kekerasan dari geng siswa kuat yang dilindungi guru. Pemberontakan yang dimulai dari aksi kecil berubah menjadi kekacauan besar: siswa mengambil alih gedung sekolah, menyandera guru, dan menggunakan kekerasan balasan yang tak kalah brutal.
Film ini tak memihak sepenuhnya pada siswa pemberontak; ia menunjukkan bahwa kekerasan melahirkan kekerasan lebih banyak lagi. Guru-guru yang korup dan acuh tak acuh digambarkan sebagai bagian dari masalah sistemik, sementara siswa yang terlibat dalam pemberontakan akhirnya menghadapi konsekuensi tragis. Ada kritik tajam terhadap budaya pendidikan Korea yang mengutamakan nilai di atas kesehatan mental, serta hierarki sosial di sekolah yang memperburuk bullying. Adegan-adegan paling menyayat adalah momen ketika Soo-hyuk dan teman-temannya menyadari bahwa “pemenang” dalam pemberontakan mereka hanyalah kehancuran bersama—tak ada kemenangan sejati dalam kekerasan. Secara keseluruhan, film ini adalah thriller psikologis yang membuat penonton bertanya: apakah pemberontakan remaja adalah bentuk perlawanan atau hanya ledakan keputusasaan yang tak terarah?
Dampak dan Resepsi Publik
Sejak rilis, The Siege at Thorn High menuai respons beragam: sebagian memuji keberaniannya mengangkat isu bullying dan tekanan akademik secara frontal, sementara yang lain mengkritik kekerasan grafisnya yang terasa berlebihan. Namun seiring waktu, film ini semakin dihargai sebagai salah satu karya awal yang berani membahas kekerasan sekolah di Korea Selatan. Pada 2025–2026, serial ini kembali viral di kalangan penonton muda berkat rewatch di Netflix dan diskusi tentang relevansinya dengan kasus bullying modern serta tekanan ujian nasional. Banyak penonton berbagi cerita pribadi tentang pengalaman serupa di sekolah, membuat film ini terasa sangat relatable meski sudah berusia hampir dua dekade. Di Indonesia, film ini sering direkomendasikan di komunitas K-movie sebagai contoh thriller sekolah yang intens seperti Weak Hero Class 1, dengan pujian khusus untuk akting Yoo Seon-ho dan pesan anti-kekerasan yang tersirat. Hingga kini, film ini tetap jadi referensi utama ketika membahas representasi bullying dan pemberontakan remaja di sinema Korea.
Kesimpulan
The Siege at Thorn High adalah thriller sekolah yang tegang dan menyayat—sebuah film di mana pemberontakan remaja bukan solusi heroik, melainkan cermin keputusasaan terhadap sistem yang menindas. Dengan adegan aksi brutal, akting kuat, dan kritik sosial yang tajam, karya ini berhasil memberikan ketegangan sekaligus refleksi mendalam tentang harga yang dibayar atas kekerasan. Di 2026 ini, ketika isu bullying dan tekanan akademik masih aktual, film ini mengingatkan bahwa kekerasan di sekolah bukan masalah individu, melainkan gejala dari sistem yang gagal melindungi anak muda. Jika Anda belum menonton ulang atau baru ingin mencobanya, siapkan saraf—The Siege at Thorn High akan membuat Anda terpaku hingga akhir, dan mungkin memikirkan ulang tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok sekolah.
