Review Film The Last Summer

Review Film The Last Summer. Film The Last Summer tetap menjadi salah satu rom-com remaja yang paling mudah dinikmati di platform streaming hingga kini, dengan cerita tentang sekelompok lulusan SMA di Chicago yang menjalani musim panas terakhir sebelum kuliah, di mana mereka menghadapi cinta baru, putus asa, serta pertanyaan besar tentang masa depan. Berlatar kota besar dengan pantai dan pesta musim panas, film ini mengikuti beberapa alur paralel yang saling terkait, fokus pada Griffin yang kembali dari sekolah asrama dan bertemu Phoebe yang sedang mengerjakan film dokumenter, serta pasangan lain seperti Alec dan Erin yang memutuskan putus dini untuk menghindari LDR, plus subplot lucu dari teman-teman geeky mereka. Film ini berhasil menangkap esensi transisi remaja ke dewasa dengan campuran humor ringan, romansa manis, serta momen emosional yang relatable, meski penuh trope klasik. Chemistry antar pemeran utama terasa segar dan energik, ditambah visual musim panas Chicago yang cerah, menjadikannya tontonan santai bagi yang mencari cerita cinta muda penuh tawa dan sedikit drama tanpa terlalu berat. INFO CASINO

Alur Cerita yang Beragam dan Penuh Energi Remaja: Review Film The Last Summer

Alur cerita dibangun melalui beberapa garis paralel yang saling bertautan, dimulai dari Griffin yang merasa terasing setelah pulang dari sekolah elit dan bertemu Phoebe yang fokus pada proyek filmnya untuk beasiswa—keduanya perlahan jatuh cinta sambil bekerja sama, tapi konflik muncul ketika urusan keluarga serta tekanan masa depan mengganggu hubungan mereka. Sementara itu, Alec dan Erin memilih putus sebelum kuliah untuk menghindari patah hati jarak jauh, tapi keduanya mulai berkencan dengan orang baru—Alec dengan Paige yang ceria dan Erin dengan Ricky pemain bisbol—yang membawa dinamika cemburu serta refleksi tentang apa yang mereka inginkan. Subplot lain melibatkan teman-teman seperti Audrey yang bingung dengan masa depan serta duo geeky yang berusaha menebus waktu hilang dengan petualangan kencan yang kacau. Setiap cerita bergerak dengan pacing cepat, penuh pesta pantai, malam bonfire, serta momen awkward khas remaja, hingga akhir yang menyatukan semuanya dengan rasa bittersweet tentang perpisahan dan harapan baru. Meski agak ramai dengan banyak alur, film ini berhasil menjaga energi tinggi dan meninggalkan rasa nostalgia musim panas terakhir yang penuh kemungkinan.

Karakter yang Relatable dan Interaksi yang Menyenangkan: Review Film The Last Summer

Griffin dan Phoebe menjadi pasangan utama yang paling menonjol karena chemistry mereka terasa alami—Griffin sebagai pemusik berbakat yang tertekan ekspektasi keluarga, Phoebe sebagai pembuat film yang mandiri tapi insecure tentang bakatnya—sehingga romansa mereka terbangun melalui kolaborasi kreatif serta obrolan mendalam yang membuat penonton rooting untuk mereka. Alec dan Erin memberikan kontras menarik sebagai pasangan lama yang putus tapi masih peduli satu sama lain, dengan subplot mereka mengeksplorasi tema LDR serta move on dengan cara yang lucu sekaligus menyentuh. Karakter pendukung seperti Ricky yang charming, Paige yang bubbly, serta teman-teman geeky yang over-the-top menambah humor serta warna tanpa terasa dipaksakan, sementara keluarga masing-masing memberikan latar emosional yang membuat konflik terasa lebih personal. Secara keseluruhan, karakter-karakter ini berhasil digambarkan sebagai remaja biasa yang menghadapi ketakutan dewasa dengan cara autentik, membuat interaksi mereka terasa hidup dan mudah disukai, terutama dalam momen grup yang penuh tawa serta dukungan.

Elemen Romansa, Humor, dan Pesan Coming-of-Age yang Hangat

Romansa di film ini beragam dan manis, dari slow-burn Griffin-Phoebe yang penuh dukungan kreatif hingga rebound lucu Alec-Erin serta petualangan awkward teman-teman mereka, semuanya dieksekusi dengan momen deg-degan klasik seperti kencan pantai atau pengakuan malam hari tanpa terasa berlebihan. Humor muncul dari situasi remaja tipikal—pesta gagal, kesalahan kencan, serta lelucon self-deprecating—yang ringan tapi tepat sasaran, ditambah adegan grup yang energik. Pesan coming-of-age tentang menghadapi perubahan, pentingnya kejujuran dengan diri sendiri serta orang terdekat, serta nilai pertemanan di masa transisi disampaikan secara halus melalui perjalanan karakter yang belajar bahwa musim panas terakhir bukan akhir melainkan awal dari sesuatu yang baru. Visual musim panas Chicago yang cerah—pantai, pesta api unggun, serta kota malam—menambah daya tarik, sementara nada keseluruhan tetap positif, lucu, dan nostalgik, membuat film ini terasa seperti kenangan remaja yang hangat dan uplifting.

Kesimpulan

The Last Summer berhasil menjadi rom-com remaja yang menyenangkan dan relatable, dengan alur beragam yang penuh energi, karakter mudah disukai, serta romansa manis yang menangkap esensi musim panas terakhir sebelum dewasa. Film ini cocok sebagai tontonan santai yang memberikan tawa, deg-degan, serta sedikit renungan tentang pertemanan dan cinta muda, tanpa terlalu berat atau klise berlebihan. Meski tidak sempurna dan agak ramai dengan subplot, kekuatannya terletak pada chemistry grup serta rasa nostalgia yang kuat, membuatnya layak ditonton ulang setiap musim panas. Bagi yang mencari cerita remaja penuh harapan serta momen feel-good, ini adalah pilihan tepat yang mengingatkan bahwa masa transisi sering kali penuh kekacauan tapi juga keindahan—dan kadang, musim panas terakhir justru menjadi awal dari sesuatu yang lebih baik.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *