review-film-battle-of-the-sexes

Review Film Battle of the Sexes. Film Battle of the Sexes yang dirilis pada 2017 tetap menjadi salah satu drama olahraga paling relevan hingga akhir 2025, sering dipuji karena gabungkan hiburan tenis dengan komentar sosial tentang kesetaraan gender. Disutradarai Jonathan Dayton dan Valerie Faris, film ini rekonstruksi pertandingan tenis ikonik 1973 antara Billie Jean King dan Bobby Riggs, yang ditonton lebih dari 90 juta orang di seluruh dunia. Dibintangi Emma Stone sebagai King dan Steve Carell sebagai Riggs, Battle of the Sexes bukan hanya tentang skor akhir, tapi tentang perjuangan wanita di olahraga dan masyarakat era itu. Di tengah diskusi kesetaraan gender yang masih hangat, film ini terasa semakin kuat sebagai pengingat bahwa satu pertandingan bisa ubah persepsi dunia. MAKNA LAGU

Plot dan Rekonstruksi Pertandingan Historis: Review Film Battle of the Sexes

Cerita berpusat pada Billie Jean King, petenis nomor satu dunia yang lawan diskriminasi hadiah uang di tur tenis pria-dominan. Ia pimpin pembentukan tur wanita sendiri, sementara Bobby Riggs, mantan juara yang sudah pensiun dan suka sensasi, tantang King untuk pertandingan “battle of the sexes” demi publisitas dan uang. Riggs, dengan gaya chauvinis berlebih, klaim pria selalu lebih unggul, sementara King lihat ini sebagai kesempatan buktikan sebaliknya.

Plot ini gabungkan persiapan kedua belah pihak—latihan King yang serius dengan tim wanita, dan gimmick Riggs yang penuh humor—menuju pertandingan di Houston Astrodome yang jadi salah satu event olahraga paling ditonton sejarah. Sutradara rekonstruksi pertandingan dengan detail tinggi, dari kostum era 1970-an hingga shot tenis yang energik. Di 2025, narasi ini masih menggugah karena tunjukkan bagaimana satu event bisa jadi katalisator perubahan sosial, sambil kritik media yang sensasionalkan gender daripada skill.

Penampilan Aktor dan Nuansa Era: Review Film Battle of the Sexes

Emma Stone beri performa luar biasa sebagai King—tangkap ketegasan di lapangan, keraguan pribadi tentang orientasi seksualnya, dan beban mewakili seluruh wanita. Ia transformasi fisik dan emosional dengan meyakinkan, dapat pujian luas termasuk nominasi penghargaan. Steve Carell sebagai Riggs tunjukkan sisi kompleks: chauvinis lucu di depan kamera, tapi rapuh dan cari perhatian di baliknya, buat karakter ini tak hitam-putih.

Pendukung seperti Sarah Silverman sebagai manajer tur wanita dan Bill Pullman sebagai promotor chauvinis tambah dinamika. Chemistry Stone dan Carell beri kontras menarik—rivalitas di lapangan tapi respect diam-diam di luar. Dayton dan Faris arahkan dengan gaya ringan tapi tajam, gunakan musik era disco dan visual cerah untuk tangkap semangat 1970-an, sambil sisipkan momen intim seperti hubungan King dengan pasangannya yang rahasia.

Tema Kesetaraan dan Dampak Budaya

Battle of the Sexes kuat sampaikan tema kesetaraan gender melalui humor dan drama—kritik gap gaji yang ekstrem di tenis waktu itu, prasangka bahwa wanita “lemah”, serta tekanan King sebagai ikon feminisme. Film juga sentuh isu seksualitas King yang baru terbuka, beri lapisan pribadi pada perjuangan publiknya. Pertandingan akhir jadi simbol kemenangan wanita, tapi film tak lupa tunjukkan Riggs sebagai manusia yang kalah dengan anggun.

Di akhir 2025, tema ini semakin relevan dengan gap gaji yang masih ada di banyak olahraga dan diskusi LGBTQ+ di atlet. Film ini sukses dapat rating positif dan box office lumayan, inspirasi banyak penonton tentang dampak satu pertandingan historis—King menang straight set, dan itu percepat kesetaraan di tenis wanita. Meski ada kritik karena beberapa simplifikasi sejarah, Battle of the Sexes tetap dihargai karena pesan optimisnya tanpa terlalu berat.

Kesimpulan

Battle of the Sexes adalah drama olahraga yang cerdas dan menghibur, gabungkan rekonstruksi historis dengan tema kesetaraan gender yang timeless serta penampilan Stone dan Carell yang memukau. Ia bukan hanya tentang tenis, tapi tentang keberanian lawan prasangka dan ubah dunia melalui satu momen besar. Di 2025, film ini layak ditonton ulang sebagai pengingat bahwa perjuangan kesetaraan sering dimenangkan di lapangan kecil yang jadi panggung besar. Bagi penggemar biografi olahraga, komedi ringan dengan pesan dalam, atau cerita empowering, Battle of the Sexes tetap jadi pilihan yang segar, lucu, dan menginspirasi.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *