Review Film Flood. Film Flood (2007) kembali mendapat perhatian besar di tahun 2026, terutama setelah banjir besar yang melanda beberapa kota pesisir di Eropa dan Asia belakangan ini. Cerita berpusat pada badai super di Laut Utara yang memicu gelombang pasang raksasa, menerobos Thames Barrier, dan membanjiri seluruh London dalam waktu singkat. Rob Morrison, insinyur di Thames Barrier, bersama mantan istrinya Sam dan ayahnya Leonard, berjuang menyelamatkan kota sekaligus memperbaiki hubungan keluarga yang renggang. Dengan durasi miniseries asli sekitar 3,5 jam (versi bioskop dipotong menjadi 110 menit), film ini menawarkan kombinasi aksi bencana skala kota dan drama pribadi yang tulus. Di tengah maraknya berita banjir ekstrem akibat perubahan iklim, film ini terasa semakin relevan dan mencekam. BERITA BASKET
Rekonstruksi Banjir London yang Mengesankan: Review Film Flood
Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah penggambaran banjir yang sangat detail dan realistis. Badai di Laut Utara menghasilkan gelombang pasang setinggi 52 kaki yang menerjang pantai timur Inggris, kemudian menerobos Thames Barrier yang sudah tua. Adegan barrier jebol terasa seperti mimpi buruk nyata: air laut berwarna cokelat kotor menyembur masuk, membawa mobil, pohon, dan puing-puing ke jalan-jalan kota. London berubah dalam hitungan jam—Westminster terendam, Trafalgar Square jadi danau besar, dan London Underground penuh air.
Efek visual menggunakan campuran CGI dan set praktikal yang cukup meyakinkan untuk tahun 2007. Suara deru air, jeritan warga, dan angin menderu menciptakan rasa panik yang konstan. Adegan warga berlarian ke Greenwich Park yang lebih tinggi atau terjebak di stasiun bawah tanah yang banjir terasa sangat intens dan claustrophobic. Film tidak berlebihan dengan kehancuran global; ia fokus pada satu kota besar yang benar-benar rentan terhadap banjir pasang—sesuatu yang membuat penonton merasa “ini bisa terjadi kapan saja”.
Konflik Keluarga dan Keputusan Politik yang Menyentuh: Review Film Flood
Di tengah kekacauan banjir, inti cerita adalah hubungan keluarga Morrison. Rob, yang bekerja di barrier, merasa gagal sebagai ayah dan suami. Sam, mantan istrinya yang juga insinyur di barrier, membawa beban masa lalu. Leonard, sang ayah yang sudah tua tapi ahli klimatologi, menjadi suara peringatan yang diabaikan. Ketika badai datang, ketiganya terpaksa bekerja sama: Rob dan Sam berjuang di barrier, sementara Leonard di markas pemerintah berusaha meyakinkan pejabat untuk tidak menjatuhkan bom nuklir ke kota.
Konflik politik juga kuat: pemerintah awalnya menolak evakuasi karena takut kerugian ekonomi, lalu beralih ke rencana ekstrem ketika situasi memburuk. Film menunjukkan sisi gelap birokrasi—keputusan yang mengorbankan nyawa demi “kepentingan lebih besar”—tanpa terasa menggurui. Akting Robert Carlyle sebagai Rob sangat kuat; ia membawa rasa frustrasi dan tekad seorang ayah biasa. Tom Courtenay sebagai Leonard memberikan bobot emosional yang mendalam, terutama di momen pengorbanan akhir.
Kelemahan Narasi dan Kekuatan Relevansi Saat Ini
Beberapa kelemahan terlihat jelas: durasi miniseries asli terlalu panjang dengan subplot yang lambat, dan versi bioskop terasa terpotong kasar. Beberapa dialog klise, dan akhir cerita agak terlalu heroik untuk ukuran bencana realistis. Akurasi ilmiah juga tidak sempurna—gelombang pasang sebesar itu dari badai biasa sangat jarang terjadi.
Namun kekuatan film ini justru pada relevansinya di tahun 2026. Banjir besar di berbagai kota dunia belakangan ini membuat adegan London terendam terasa seperti prediksi yang terwujud. Pesan tentang pentingnya mendengarkan peringatan ilmiah, kesiapan infrastruktur kota, dan prioritas keselamatan warga daripada ekonomi terasa sangat mendesak. Film ini bukan sekadar hiburan; ia menjadi pengingat visual yang kuat tentang kerentanan kota besar terhadap perubahan iklim.
Kesimpulan
Flood adalah film bencana yang solid dengan visual banjir London yang mengesankan dan drama keluarga yang tulus. Meski narasinya kadang klise dan durasinya panjang, film ini berhasil membangun ketegangan tinggi sekaligus menyentuh sisi manusiawi di tengah kehancuran. Di tahun 2026, ketika banjir ekstrem semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia, Flood terasa lebih dari sekadar film lama—ia seperti peringatan dini yang masih sangat relevan. Jika Anda mencari tontonan yang membuat adrenalin terpacu sekaligus merenung tentang masa depan kota-kota besar, Flood tetap jadi pilihan tepat dalam genre bencana banjir. Air naik cepat, kota tenggelam, tapi harapan dan keluarga tetap bertahan—persis seperti realitas yang kita hadapi sekarang.
