Review film Logan perpisahan terakhir sang mutan tragis yang menghadirkan sisi kemanusiaan Wolverine dalam dunia masa depan yang sangat kelam dan penuh dengan keputusasaan bagi kaumnya yang hampir punah. James Mangold sebagai sutradara mengambil langkah yang sangat revolusioner dengan mengubah citra pahlawan super yang biasanya penuh dengan kemegahan menjadi sebuah drama bergaya neo-western yang sangat kasar serta penuh dengan emosi yang sangat jujur dan menyakitkan. Cerita berfokus pada sosok Logan yang kini sudah menua dan melemah karena kemampuan regenerasinya yang mulai menghilang akibat keracunan adamantium yang ada di dalam tubuhnya selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Di tengah persembunyiannya ia harus merawat Professor X yang juga sedang mengalami kemunduran mental yang berbahaya bagi dunia sekitarnya hingga munculnya seorang anak perempuan misterius bernama Laura yang memiliki kekuatan serupa dengan dirinya. Perjalanan mereka menuju tempat perlindungan terakhir menjadi sebuah ziarah yang sangat emosional di mana Logan harus berhadapan dengan kegagalan masa lalunya serta tanggung jawab terakhirnya sebagai seorang pelindung bagi generasi baru yang masih memiliki harapan untuk hidup bebas dari kejaran organisasi jahat yang ingin memanfaatkan mereka sebagai senjata perang. review komik
Sisi Manusiawi Karakter dalam Review film Logan
Kekuatan utama dari narasi ini adalah bagaimana ia menanggalkan jubah pahlawan super dan memperlihatkan kerapuhan fisik serta mental dari karakter yang selama ini dikenal tidak bisa mati dan sangat tangguh di medan perang. Penonton akan melihat Logan yang harus memakai kacamata untuk membaca serta jalannya yang pincang akibat luka yang tidak lagi sembuh dengan cepat sehingga menciptakan rasa empati yang sangat dalam terhadap proses penuaan yang dialami oleh sang legenda. Hubungan antara Logan dan Charles Xavier digambarkan seperti anak yang sedang merawat ayahnya yang sudah pikun namun tetap menyimpan rasa hormat yang besar di balik kemarahan dan rasa frustrasi yang sering muncul akibat situasi yang sangat sulit tersebut. Hal ini memberikan dimensi emosional yang belum pernah ada sebelumnya dalam film adaptasi komik mana pun karena fokus utamanya adalah pada hubungan antarpribadi serta pencarian kedamaian batin di akhir hayat yang sudah semakin dekat bagi kedua mutan yang tersisa di dunia yang sudah tidak lagi ramah terhadap keberadaan mereka.
Kekerasan yang Jujur dan Estetika Visual
Berbeda dengan film-film sebelumnya dalam waralaba X-Men kali ini adegan kekerasan disajikan dengan sangat brutal dan tanpa kompromi untuk menunjukkan betapa mengerikannya kekuatan yang dimiliki oleh Logan saat ia sedang terdesak demi melindungi orang-orang yang ia sayangi. Setiap sabetan cakar terasa memiliki beban dan rasa sakit yang nyata karena tidak lagi dibungkus dengan visual yang terlalu rapi atau ramah untuk semua umur melainkan sebagai representasi dari sisa-sisa amarah seorang pejuang yang sudah sangat lelah dengan kehidupan yang penuh dengan pertumpahan darah. Sinematografi yang menggunakan palet warna tanah yang gersang serta lanskap padang pasir yang luas memberikan nuansa kesepian yang sangat kuat bagi para pelarian ini di sepanjang perjalanan mereka menuju perbatasan utara. Kualitas visual ini sangat mendukung tema mengenai akhir dari sebuah era di mana para dewa modern telah jatuh dan hanya tersisa manusia-manusia rusak yang mencoba menemukan sedikit martabat di tengah kehancuran yang mereka ciptakan sendiri selama bertahun-tahun di masa jayanya.
Penampilan Puncak Hugh Jackman dan Patrick Stewart
Hugh Jackman memberikan penampilan terbaik sepanjang tujuh belas tahun perannya sebagai Wolverine dengan menunjukkan kedalaman akting yang sangat luar biasa melalui ekspresi kelelahan jiwa yang sangat terpancar dari sorot matanya yang redup. Ia berhasil menutup babak hidup karakternya dengan sebuah penghormatan yang sangat agung sekaligus sangat menyedihkan yang membuat audiens merasa benar-benar kehilangan sosok pahlawan yang telah menemani masa kecil mereka selama hampir dua dekade terakhir. Patrick Stewart juga memberikan performa yang sangat mengharukan sebagai Charles Xavier yang kehilangan kendali atas pikiran jeniusnya namun tetap berusaha memberikan bimbingan moral bagi Logan di tengah kekacauan yang sedang mereka alami bersama. Kehadiran aktris muda Dafne Keen sebagai Laura memberikan energi baru yang sangat kuat melalui kemampuan akting tanpa banyak bicara yang mampu menandingi intensitas emosional dari kedua aktor senior tersebut sehingga menciptakan dinamika keluarga yang sangat unik dan penuh dengan momen-momen yang mampu menggetarkan hati nurani setiap penontonnya.
Kesimpulan Review film Logan
Secara keseluruhan mahakarya ini merupakan sebuah perpisahan yang sangat sempurna bagi salah satu karakter paling ikonik dalam sejarah perfilman modern karena mampu memberikan konklusi yang sangat bermartabat dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Logan berhasil membuktikan bahwa film pahlawan super bisa menjadi sebuah karya seni yang sangat serius serta memiliki kualitas naskah yang sangat mendalam tanpa harus bergantung pada adegan aksi yang bombastis atau lelucon yang tidak perlu di setiap adegannya. Akhir cerita yang sangat simbolis dengan penempatan salib yang miring menjadi tanda x memberikan rasa puas yang luar biasa sekaligus kesedihan yang mendalam bagi para penggemar yang telah mengikuti perjalanan panjang sang mutan sejak awal kemunculannya. Film ini mengajarkan kita tentang arti pengorbanan serta pentingnya memberikan harapan bagi generasi mendatang meskipun kita sendiri harus hancur dalam proses tersebut demi kebaikan yang lebih besar di masa depan yang belum kita ketahui kepastiannya bagi kelangsungan hidup umat manusia dan kaum mutan lainnya.
