Review Film Nana: Cinta & Kematian

Review Film Nana: Cinta & Kematian. Film Nana (2024), karya debut panjang sutradara Kamila Andini yang tayang perdana di Festival Film Internasional Berlin Februari 2024 dan rilis resmi di Indonesia pada 14 November 2024, masih menjadi salah satu karya sinema Indonesia paling banyak dibicarakan hingga Februari 2026. Hampir satu setengah tahun setelah penayangan perdana, film ini terus mendapat sorotan karena berhasil memenangkan beberapa penghargaan internasional (termasuk FIPRESCI Prize di Berlinale) dan dianggap sebagai salah satu film terbaik Indonesia dekade ini. Dibintangi Aurora Ribero sebagai Nana dan Asmara Abigail sebagai sahabatnya, cerita berlatar akhir 1990-an di sebuah desa kecil di Jawa Barat. Nana menceritakan kisah cinta pertama yang rapuh dan tragis antara seorang gadis remaja dan pemuda desa, di tengah bayang-bayang kematian yang mengintai. Di balik keindahan visual dan tempo lambat khas Kamila Andini, film ini sebenarnya adalah meditasi tentang cinta remaja yang singkat, kematian yang tak terelakkan, dan bagaimana masyarakat desa sering kali menelan perasaan pribadi demi menjaga “kehormatan” kolektif. REVIEW KOMIK

Kisah Cinta yang Rapuh di Tengah Tradisi: Review Film Nana: Cinta & Kematian

Nana adalah gadis desa berusia 17 tahun yang hidup dalam keluarga sederhana dan sangat menjunjung adat. Ia jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Aji (diperankan oleh aktor pendatang baru), tapi hubungan mereka harus dirahasiakan karena perbedaan status sosial dan tekanan keluarga. Cinta pertama mereka digambarkan dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian: tatapan malu-malu di sawah, pertemuan diam-diam di bawah pohon beringin, dan janji-janji kecil yang terasa besar bagi remaja desa.
Namun keindahan itu cepat berubah menjadi tragedi ketika Aji meninggal dunia dalam kecelakaan tragis. Kematian Aji tidak hanya menghancurkan Nana secara emosional, tapi juga menempatkannya dalam posisi rentan di mata masyarakat desa. Film ini tidak menampilkan kematian secara grafis; justru kekuatannya ada pada keheningan setelah kehilangan—tatapan kosong Nana, tangisan tertahan ibunya, dan bisik-bisik tetangga yang penuh judgement. Kamila Andini dengan cerdas menggunakan elemen budaya Sunda (lagu-lagu daerah, ritual adat, dan kehidupan sawah) untuk memperkuat rasa kehilangan yang terasa sangat personal sekaligus kolektif.

Visual dan Suasana yang Menyayat: Review Film Nana: Cinta & Kematian

Sinematografi Yunus P. Pakpahan menjadikan film ini visual masterpiece: warna-warna lembut yang desaturasi, long take yang mengikuti langkah kaki Nana di sawah, dan komposisi frame yang sering menempatkan karakter kecil di tengah lanskap luas—menggambarkan betapa kecilnya perasaan individu di hadapan norma masyarakat. Musik dari Ricky Lionardi menggunakan instrumen tradisional Sunda yang minimalis, menciptakan rasa pilu yang konstan tanpa pernah terasa berlebihan.
Penampilan Aurora Ribero sebagai Nana luar biasa—ia berhasil menyampaikan rasa cinta pertama yang polos, kesedihan mendalam, dan kekuatan diam-diam yang tumbuh setelah kehilangan. Asmara Abigail sebagai sahabat memberikan dukungan emosional yang hangat, sementara aktor pendukung seperti ibu dan ayah Nana menambah lapisan realisme tentang tekanan adat pada perempuan muda.

Makna Lebih Dalam: Cinta dan Kematian dalam Lingkaran Adat

Di balik cerita cinta remaja, Nana adalah film tentang bagaimana masyarakat tradisional sering kali mengorbankan perasaan pribadi demi menjaga “kehormatan” kolektif. Kematian Aji bukan hanya akhir dari cinta pertama Nana; ia juga menjadi titik di mana Nana mulai mempertanyakan nilai-nilai yang selama ini diajarkan kepadanya. Film ini tidak menghakimi adat; justru menunjukkan bahwa adat bisa menjadi pelindung sekaligus penjara, terutama bagi perempuan muda yang ingin mencintai dengan bebas.
Banyak penonton merasa film ini seperti pengingat bahwa cinta pertama sering kali singkat dan tragis, tapi justru dari situlah kita belajar tentang kehilangan, ketangguhan, dan makna hidup. Makna terdalamnya adalah bahwa “cinta seperti kupu-kupu” memang indah tapi rapuh—dan ketika ia mati, yang tersisa adalah kekuatan untuk terus hidup meski hati telah retak.

Kesimpulan

Nana adalah film yang langka: indah sekaligus sangat menyayat, lambat tapi penuh kekuatan emosional, dan mendalam tanpa terasa berat. Kekuatan utamanya terletak pada penampilan luar biasa Aurora Ribero sebagai gadis desa yang rapuh tapi tangguh, sinematografi yang memukau, dan pesan bahwa cinta pertama sering kali mengajarkan kita tentang kehilangan dan ketangguhan. Film ini berhasil menjadi cermin bagi banyak penonton yang pernah merasakan cinta remaja yang tak berbalas atau kehilangan orang tercinta. Di tengah banjir film romansa remaja yang berlebihan dramatis, Nana menawarkan kejujuran dan kepekaan budaya yang menyentuh. Jika kamu mencari drama yang membuat hati teriris sambil merasa terharu, film ini sangat direkomendasikan. Nana bukan sekadar film tentang cinta remaja; ia adalah potret jujur tentang perjuangan personal seorang gadis desa di tengah tradisi dan kehilangan. Dan itu, pada akhirnya, adalah makna paling indah dari sebuah film.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *