Review Film Saltburn: Ambisi yang Gelap. Saltburn (2023), karya Emerald Fennell yang menjadi pemenang berbagai penghargaan independen dan nominasi Oscar, tetap menjadi salah satu film paling dibicarakan hingga awal 2026. Film berdurasi 131 menit ini menggabungkan elemen thriller psikologis, satire kelas sosial, dan drama gelap dengan gaya visual yang mewah dan provokatif. Dibintangi Barry Keoghan sebagai Oliver Quick serta Jacob Elordi sebagai Felix Catton, Saltburn mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa Oxford dari latar belakang sederhana yang terobsesi dengan kehidupan glamor keluarga bangsawan. Dirilis pada November 2023 dan tersedia di Prime Video sejak Desember tahun yang sama, film ini berhasil memicu perdebatan panjang tentang ambisi, kelas sosial, dan batas obsesi manusia. INFO CASINO
Sinopsis dan Struktur Narasi: Review Film Saltburn: Ambisi yang Gelap
Cerita berpusat pada Oliver Quick (Barry Keoghan), mahasiswa Oxford yang pintar tapi kesepian, yang mulai berteman dengan Felix Catton (Jacob Elordi), mahasiswa tampan dan kaya raya dari keluarga aristokrat. Ketika Felix mengajak Oliver menghabiskan musim panas di Saltburn, rumah megah keluarganya di pedesaan Inggris, Oliver mulai terlibat lebih dalam dengan dinamika keluarga Catton yang eksentrik. Narasi dibagi menjadi dua bagian utama: kehidupan kampus di Oxford dan musim panas di Saltburn, dengan twist yang semakin gelap seiring waktu.
Fennell sengaja membangun cerita secara perlahan di awal, membuat penonton merasa sedang menonton drama kelas sosial ala The Talented Mr. Ripley atau Brideshead Revisited. Namun di paruh kedua, film berubah menjadi thriller psikologis yang semakin tidak nyaman, penuh dengan momen provokatif dan simbolisme seksual yang eksplisit. Struktur narasi yang linier namun penuh kejutan membuat penonton terus bertanya: siapa sebenarnya Oliver, dan apa yang ia inginkan sebenarnya?
Penampilan Aktor dan Penggambaran Karakter: Review Film Saltburn: Ambisi yang Gelap
Barry Keoghan memberikan penampilan terbaik dalam kariernya sebagai Oliver Quick. Ia berhasil menyampaikan kerapuhan, kecerdasan, dan kegelapan batin karakter dengan sangat halus—dari tatapan polos di awal hingga ekspresi dingin yang menyeramkan di akhir. Jacob Elordi sebagai Felix Catton tampil karismatik dan menawan, membuat penonton ikut terpesona seperti Oliver. Rosamund Pike sebagai Lady Elspeth Catton mencuri perhatian dengan peran ibu yang eksentrik namun rapuh, sementara Richard E. Grant sebagai Sir James Catton dan Alison Oliver sebagai Venetia memberikan warna gelap pada dinamika keluarga.
Karakter-karakter dalam film ini tidak hitam-putih; Fennell sengaja membuat mereka kompleks dan ambigu, sehingga penonton tidak bisa sepenuhnya membenci atau menyayangi siapa pun. Hal ini membuat Saltburn terasa lebih dari sekadar thriller—ia adalah potret psikologis tentang ambisi, iri hati, dan obsesi kelas.
Tema Utama dan Pendekatan Visual
Saltburn mengeksplorasi tema ambisi yang gelap, obsesi kelas sosial, dan batas antara cinta dan kepemilikan. Oliver bukan sekadar “penipu” biasa; ia adalah produk dari sistem yang membuat orang miskin merasa harus “mencuri” kehidupan orang kaya untuk merasa hidup. Film ini juga menyindir budaya aristokrasi Inggris yang dekaden, di mana kekayaan dan hak istimewa sering kali menyembunyikan kekosongan emosional.
Secara visual, Saltburn sangat memukau. Sinematografi Linus Sandgren menggunakan warna-warna hangat dan pencahayaan dramatis untuk menciptakan kontras antara kemewahan rumah Saltburn dan kegelapan batin karakternya. Adegan-adegan provokatif (termasuk momen bathtub dan makam yang ikonik) sengaja dibuat untuk mengganggu dan memprovokasi, tapi tetap dalam konteks narasi—bukan sekadar shock value.
Kesimpulan
Saltburn adalah film yang berani, gelap, dan sangat memikat—menggabungkan thriller psikologis dengan satire sosial yang tajam. Penampilan Barry Keoghan dan seluruh pemeran utama luar biasa, sementara arahan Emerald Fennell berhasil menciptakan karya yang indah sekaligus mengganggu. Meski beberapa adegan provokatif mungkin terasa berlebihan bagi sebagian penonton, film ini berhasil menyampaikan pesan tentang ambisi yang gelap dan obsesi kelas dengan cara yang cerdas dan tidak mudah dilupakan. Bagi yang menyukai film seperti Parasite, The Talented Mr. Ripley, atau Promising Young Woman, Saltburn adalah tontonan wajib. Film ini bukan sekadar tentang gulat atau kekerasan—ia adalah potret psikologis tentang manusia yang rela melakukan apa saja demi merasakan “kepunyaan” atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar miliknya. Saltburn tetap relevan hingga 2026 karena mengajak kita bertanya: seberapa jauh ambisi bisa membawa kita, dan apa yang kita rela korbankan demi itu?
