Review Film Siksa Neraka: Terbangun di Neraka. Film horor Siksa Neraka (2024) garapan Joko Anwar langsung jadi salah satu karya paling ditunggu dan dibicarakan sejak tayang di bioskop pada 11 April 2024. Dalam waktu kurang dari setahun, film ini berhasil menarik lebih dari 6 juta penonton dan terus ramai di media sosial hingga Februari 2026. Berlatar di Jakarta modern yang kontras dengan dunia kubur yang gelap dan mencekam, cerita mengikuti Sita (Faradina Mufti), perempuan muda yang mengalami kecelakaan fatal dan tiba-tiba “terbangun” di alam siksa neraka. Dengan durasi 117 menit, film ini tidak sekadar mengandalkan jumpscare atau penampakan makhluk gaib, melainkan membangun teror lewat rasa penyesalan yang mendalam, siksaan batin, dan pengungkapan dosa-dosa yang selama ini disembunyikan. Review ini mengupas makna utama cerita: terbangun di neraka sebagai simbol penyesalan dan konsekuensi pilihan hidup yang salah. INFO CASINO
Sinopsis dan Alur yang Mencekam: Review Film Siksa Neraka: Terbangun di Neraka
Sita adalah influencer muda yang hidup glamor di kota besar. Ia mengalami kecelakaan mobil fatal. Begitu sadar, ia sudah tidak lagi di dunia nyata—terbangun di alam kubur yang gelap, panas, dan penuh jeritan. Di sana Sita dipaksa menyaksikan ulang semua dosa dan kesalahan yang pernah ia lakukan: mengabaikan orang tua, menipu orang lain, berbohong demi konten, hingga sikap cuek terhadap penderitaan orang sekitar. Setiap siksaan bukan hanya fisik, tapi juga batin—ia harus merasakan sakit yang sama seperti yang pernah ia timbulkan pada orang lain. Alur bergerak cepat di paruh pertama untuk membangun rasa panik dan keputusasaan, lalu melambat di paruh kedua agar penonton bisa meresapi setiap penyesalan Sita. Puncak cerita datang ketika Sita diberi kesempatan terakhir untuk “menebus” dosa-dosanya melalui pengakuan dan permohonan ampun, tapi waktu yang tersisa semakin menipis. Joko Anwar pintar memainkan ekspektasi penonton: yang membuat takut bukan makhluk gaibnya, melainkan rasa bersalah dan keputusasaan ketika menyadari bahwa “neraka” itu bisa dimulai dari pilihan sehari-hari yang kita anggap remeh.
Kekuatan Sinematik dan Makna Terbangun di Neraka: Review Film Siksa Neraka: Terbangun di Neraka
Sinematografi film ini menggunakan warna merah tua, hitam pekat, dan oranye membara untuk menciptakan rasa panas dan sesak khas neraka. Adegan siksaan digarap realistis tapi tidak berlebihan—fokus pada ekspresi wajah Sita dan suara jeritan yang terasa sangat nyata. Tema terbangun di neraka di sini bukan hanya cerita akhirat, melainkan simbol penyesalan dan konsekuensi dari hidup yang tidak benar. Setiap siksaan yang Sita alami adalah cermin dari perbuatan buruknya sendiri: rasa sakit yang ia timbulkan pada orang lain kini kembali kepadanya dalam bentuk yang lebih menyiksa. Joko Anwar juga menyisipkan kritik halus terhadap sikap acuh tak acuh dalam kehidupan modern—mengabaikan orang tua, menipu orang lain, atau hidup tanpa empati—dan bagaimana hal-hal kecil itu bisa menjadi “neraka” yang kita ciptakan sendiri. Performa Faradina Mufti sebagai Sita luar biasa—ia berhasil menunjukkan transisi dari sikap santai dan cuek menjadi kepanikan, penyesalan, dan akhirnya penerimaan. Adegan klimaks ketika Sita harus menghadapi “dirinya sendiri” di neraka menjadi momen paling mencekam—menggabungkan horor supranatural dengan horor psikologis yang sangat dalam. Ending film yang terbuka membuat penonton terus memikirkan: apakah Sita benar-benar mendapat kesempatan kedua, atau itu hanya ilusi terakhir sebelum siksaan abadi?
Dampak Budaya dan Relevansi di 2026
Sampai Februari 2026, Siksa Kubur masih sering disebut sebagai salah satu horor Indonesia yang berhasil menggabungkan konsep akhirat tradisional dengan konflik batin yang sangat relatable. Banyak penonton muda menggunakan cuplikan dialog seperti “neraka itu bukan tempat, tapi penyesalan yang kita bawa sendiri” sebagai caption di media sosial untuk menggambarkan rasa bersalah atau penyesalan dalam hidup. Film ini juga kerap dijadikan bahan diskusi tentang konsep siksa kubur dalam konteks modern—bagaimana cerita “neraka” yang biasanya untuk nakut-nakutin anak sebenarnya menyimpan pesan tentang tanggung jawab atas perbuatan sendiri. Di era di mana isu kesehatan mental, penyesalan hidup, dan pencarian makna semakin banyak dibahas, pesan film ini terasa semakin relevan: teror gaib sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari rasa bersalah dan dosa yang tak pernah diakui.
Kesimpulan
Siksa Kubur bukan sekadar film horor yang mengandalkan teror gaib; ia adalah potret gelap tentang teror nyata yang menimpa ketika manusia terbangun di neraka yang diciptakan sendiri oleh pilihan hidup yang salah. Joko Anwar berhasil mengemas cerita menyeramkan sekaligus mengajak penonton merenung tentang konsekuensi dari hidup tanpa empati dan tanggung jawab. Di tengah Februari 2026, film ini masih relevan sebagai pengingat bahwa teror terbesar bukan selalu datang dari dunia gaib, melainkan dari penyesalan dan rasa bersalah yang tak kunjung diungkap. Bagi siapa pun yang pernah merasa “terlalu jauh” dalam hidup dan ingin kembali, film ini terasa seperti bisikan dingin: ya, neraka itu bisa dimulai dari sini—dan kadang lebih menakutkan daripada apa pun yang bisa dibayangkan.
