Review Film Tenet: Waktu yang Terbalik dan Kompleks. Tenet, film sci-fi thriller karya Christopher Nolan yang dirilis pada 2020, tetap menjadi topik hangat di kalangan pecinta film hingga awal 2026. Meskipun telah lewat lebih dari lima tahun sejak tayang perdana di bioskop di tengah pandemi, film ini sering dibahas ulang berkat konsep waktu terbalik yang rumit dan visual memukau. Dibintangi John David Washington sebagai Protagonist, Robert Pattinson sebagai Neil, dan Elizabeth Debicki sebagai Kat, Tenet menawarkan petualangan spionase global dengan elemen inversion—teknologi yang membalik alur waktu. Dengan durasi 150 menit, film ini menuai kontroversi saat rilis karena plotnya yang membingungkan dan sound mix yang sulit didengar, tapi kini semakin dihargai sebagai karya ambisius Nolan. Rating Rotten Tomatoes mencapai 69% dari kritikus dan 76% dari penonton, sementara di IMDb berada di 7.3/10. Di Indonesia, di mana bioskop semakin ramai pasca-pandemi, Tenet sering direkomendasikan untuk ditonton di layar lebar atau streaming seperti Netflix—meski akan meninggalkan platform itu pada Januari 2026. Bagi penggemar Nolan seperti Inception atau Interstellar, film ini seperti teka-teki raksasa yang layak dipecahkan berkali-kali, terutama di era 2026 di mana diskusi online tentang time paradox semakin marak. REVIEW FILM
Sinopsis dan Plot Utama: Review Film Tenet: Waktu yang Terbalik dan Kompleks
Cerita berpusat pada seorang agen CIA tanpa nama, dijuluki Protagonist, yang direkrut ke organisasi rahasia bernama Tenet setelah selamat dari misi gagal di Kyiv. Ia belajar tentang inversion: objek atau manusia yang bergerak mundur dalam waktu, berasal dari masa depan untuk mengancam dunia sekarang. Musuh utama adalah Andrei Sator, miliarder Rusia yang berkomunikasi dengan masa depan untuk mengumpulkan Algorithm—senjata yang bisa membalik entropi seluruh dunia, memicu kehancuran. Protagonist bekerja sama dengan Neil, agen misterius, dan Kat, istri Sator yang terjebak dalam pernikahan abusif, untuk mencuri komponen Algorithm dari berbagai lokasi seperti Oslo, Tallinn, dan Vietnam. Plot penuh twist, dengan adegan seperti kecelakaan pesawat Boeing 747 yang meledak lalu “mundur” atau pertarungan di koridor waktu terbalik. Alur non-linear membuat penonton harus fokus, karena peristiwa masa depan memengaruhi masa lalu. Konflik klimaks di Stalsk-12, di mana pasukan merah (maju) dan biru (mundur) bertempur secara simultan. Meski rumit, narasi tetap koheren jika ditonton ulang—beberapa kritikus bilang ini seperti palindrom, maju-mundur tetap sama. Pacing cepat di awal, tapi bagian tengah terasa bertele karena eksposisi berat. Secara keseluruhan, plot ini inovatif, meski dikritik kurang emosional dibanding karya Nolan lain.
Akting dan Chemistry Pemeran: Review Film Tenet: Waktu yang Terbalik dan Kompleks
John David Washington sebagai Protagonist membawakan peran dengan karisma atletis, meski karakternya kurang dalam karena fokus pada aksi daripada backstory. Aktor ini, putra Denzel Washington, unggul di adegan fisik seperti perkelahian inverted, tapi beberapa penonton merasa ekspresinya datar di momen dialog. Robert Pattinson sebagai Neil mencuri perhatian dengan pesona santai dan aksen Inggris yang quirky—ia seperti sidekick cerdas yang menyembunyikan rahasia besar, membuat chemistry dengan Protagonist terasa seperti bromance solid. Elizabeth Debicki sebagai Kat memberikan kedalaman emosional, menggambarkan wanita kuat yang berjuang melawan suaminya dengan subtil, terutama di adegan dramatis seperti yacht confrontation. Kenneth Branagh sebagai Sator adalah villain ikonik, dengan aksen Rusia tebal dan ancaman dingin yang membuatnya menyeramkan tanpa berlebihan. Pemeran pendukung seperti Dimple Kapadia sebagai Priya dan Aaron Taylor-Johnson sebagai Ives menambah lapisan, meski peran mereka singkat. Chemistry ensemble kuat di adegan tim, seperti diskusi strategi, tapi kritik utama adalah dialog yang terkadang terdengar kaku karena sound mix Nolan yang terkenal bermasalah—suara sering tertutup musik Ludwig Göransson. Secara keseluruhan, akting menjadi jangkar di tengah kekacauan plot, dengan Pattinson sering dipuji sebagai MVP yang membuat film lebih menyenangkan.
Elemen Sci-Fi dan Visual
Tenet unggul dalam elemen sci-fi yang mind-bending, seperti konsep entropy terbalik di mana peluru “mundur” ke pistol atau ledakan yang “membalik”. Nolan menggunakan fisika nyata sebagai dasar, bekerja sama dengan Kip Thorne, fisikawan dari Interstellar, untuk membuat inversion terasa plausible meski hipotetis. Action sequences inovatif, seperti car chase di Tallinn di mana mobil bergerak maju dan mundur secara bersamaan, atau pertempuran akhir dengan ribuan ekstra yang difilmkan dua kali untuk efek inverted. Visual dari Hoyte van Hoytema memukau, dengan lokasi nyata di tujuh negara dan minim CGI—pesawat Boeing sungguhan dihancurkan untuk adegan Oslo. Soundtrack Göransson yang berdenyut dengan bass berat memperkuat ketegangan, meski sering membuat dialog sulit didengar. Tema waktu sebagai senjata mengeksplorasi determinisme vs free will, dengan pesan “what’s happened, happened” yang filosofis. Humor minim, tapi ada momen ringan seperti lelucon Neil tentang pakaian. Kritik datang pada kompleksitas berlebih yang membuat film terasa dingin, tapi di 2026, banyak yang bilang ini semakin bagus saat ditonton ulang, terutama di IMAX untuk efek visual. Elemen ini membuat Tenet seperti eksperimen blockbuster, campuran James Bond dengan quantum physics.
kesimpulan
Tenet adalah sci-fi kompleks yang menantang otak, ideal untuk mereka yang suka teka-teki Nolan di tengah era film superhero yang lebih sederhana. Dengan plot terbalik, akting solid, dan visual spektakuler, film ini layak ditonton ulang hingga 2026, meski bukan karya terbaik sutradara—lebih baik dari yang diingat, tapi masih divisive. Tema waktu yang abadi membuatnya relevan, terutama bagi penggemar John David Washington atau Robert Pattinson. Jika belum lihat, ini saatnya merasakan adrenalin inversion—jaminan diskusi panjang setelahnya.
